Prinsip Etika Komunikasi Islam
Mimbar Jumat

By Administrator 12 Feb 2021, 13:51:30 WIB Dunia Islam
Prinsip Etika Komunikasi Islam

Keterangan Gambar : Dr. Kun Wazis


Mimbar Jumat - Prinsip Etika Komunikasi Islam

Ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang sempurna  memberikan aturan jelas dalam berkomunikasi.  Komunikasi menjadi bagian penting dari dakwah Islam yang memiliki fungsi penting, yakni fungsi informasi, fungsi meyakinkan, fungsi mengingatkan, fungsi memotivasi, fungsi sosial, fungsi bimbingan, fungsi kepuasan spiritual, dan fungsi menghibur (Hefni, 2015; 156)
Komunikasi Islam berarti memfokuskan pada proses penyampaian pesan/ informasi/ berita dari seorang kepada orang lain melalui beragam media/ saluran yang bertujuan mencapai kebaikan berdasarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Mendasarkan pada makna ini, maka konstruksi komunikasi Islam menganut beberapa prinsip penting (Wazis, 16/07/2020; Setyaningsih, dkk, 2020: 128-140). 
 

Pertama, prinsip qoulan sadida sebagaimana termaktub dalam QS An Nisa ayat 9 yang dimaknai sebagai perkataan/ pembicaraan yang baik. Kalimat yang baik itu biasanya terkait dengan materi atau isi pesan maupun tata bahasa yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain melalui berbagai media komunikasi. Bagi ilmuwan komunikasi Islam, menjadi tantangan untuk mengkonstruksi materi pesan yang baik agar menjadi catatan amalan yang baik pula.


Kedua, prinsip qaulan ma’rufa yang dijelaskan maknanya dalam QS. Al-Baqarah ayat 235 dan 263; QS An-Nissa ayat 5 dan ayat 8, dan QS Al-Ahzab ayat 32. Prinsip ini mengajarkan bahwa pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator adalah ujaran yang baik, ungkapan yang sopan-santun, tidak menyakitkan komunikan/ khalayak/ audience, dan teks yang disampaikan itu dapat memberikan manfaat atau kemaslahatan bagi banyak orang.


Ketiga, prinsipq aulan baligha, yang dimaknai sebagai penyampaikan pesan yang lugas, luwes, dan jelas maknanya. Prinsip ini dapat dipahami dari ayat 63 surat An Nisaa. Dalam hal ini, seorang komunikator muslim hendaknya dapat menyampaikan pesan melalui berbagai media, baik media massa maupun media social secara efektif, teks yang digunakan langsung mengenai sasaran, mudah dipahami/ dimengerti, tidak bertele-tele (mbulet).


Keempat, prinsip qaulan karima merupakan pembicaraan yang mulia karena diiringi dengan bentuk penghormatan kepada sasaran yang dituju (komunikan). Hal ini dapat dimaknai dalam surat Al Isra ayat 23 yang memerintahkan kepada kita agar menyampaikan perkataan yang tidak menyakiti kepada orang tua kita, tidak membentak-bentak. Ini menjadi kewajiban kita dalam berkomunikasi keluarga, yakni dengan orang tua kita.


Kelima, prinsip qaulan maysura dapat dimaknai sebagai pesan komunikasi yang mudah diterima/ diserap, mudah dimengerti, dan mudah dicerna maksud dari pesan yang disampaikan.Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Isra ayat 28 yang menyatakan betapa pentingnya menyampaikan ucapan yang mudah dimengerti oleh khalayak, baik disampaikan melalui media maupun secara langsung.
Keenam, prinsip qaulan layina. Prinsip ini dapat dimaknai sebagai perbincangan yang nyaman di dengar, penuh kerendahan sehingga dapat menyentuh perasaan komunikan. Seorang komunikator memperhitungkan betul agar produk teks pembicaraannya dapat di dengar dengan enak dan masuk ke dalam benak komunikan. Dalam surat Thaha ayat 44 dikisahkan tentang ungkapan Nabi Musa dan Harun kepada Raja Fir’aun yang disampaikan dengan lemah lembut, bukan kasar.

Footnote  : 

*) Kisi-Kisi Materi Khutbah Jumat 12 Februari 2021  disampaikan di Masjid Baiturrohmah Taman Gading Kaliwates Jember pada
**) Dr. Kun Wazis, M.I.Kom, Wakil Ketua Takmir Masjid Baiturrohmah, Kaprodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana IAIN Jember.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment